Review Jurnal 12 (Perpajakan Internasional & Penetapan Harga Transfer)


12.
Nama Jurnal
Akuntansi Keuangan dan Perpajakan
Volume / Halaman
/  23 halaman
Nama Penulis
Deddy Arief Setiawan
Judul Jurnal
PENENTUAN HARGA TRANSFER ATAS TRANSAKSI INTERNASIONAL DARI PERSPEKTIF PERPAJAKAN INDONESIA
Tanggal Jurnal
Tahun 2013
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Agar kita mengetahui bagaimana sistem perpajakan internasional.
2. Agar kita dapat mengetahui metode-metode dalam penentuan harga transfer.

Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
a. Metode Perbandingan Harga antara Pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa
(Comparable Uncontrolled Price/CUP);
b. Metode Harga Penjualan Kembali (Resale Price Method/RPM);
c. Metode Biaya-Plus (Cost Plus Method);
d. Metode Pembagian Laba (Profit Split Method/PSM); atau
e. Metode Laba Bersih Transaksional (Transactional Net Margin Method/TNMM).
Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
Sejumlah variabel separti pajak, tarif kompetisi laju infalsi, nilai mata uang, pembatasan atas transfer dana, resiko politik dan kepentingan sekutu usaha patungan sangat memperumit keputusan penentuan harga transfer.
Hasil Penelitian
1. Metode Perbandingan Harga antara pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa :
Kondisi yang tepat dalam menerapkan Metode Perbandingan Harga antara pihak yang tidak
mempunyai Hubungan Istimewa (Comparable Uncontrolled Price/CUP) antara lain adalah:
a. barang atau jasa yang ditransaksikan memiliki karakteristik yang identik dalam kondisi
yang sebanding; atau
b. kondisi transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai Hubungan
Istimewa dengan pihak-pihak yang tidak memiliki Hubungan Istimewa Identik atau
memiliki tingkat kesebandingan yang tinggi atau dapat dilakukan penyesuaian yang
akurat untuk menghilangkan pengaruh dari perbedaan kondisi yang timbul.

2. Metode Harga Penjualan Kembali (Resale Price Method / RPM) :
Kondisi yang tepat dalam menerapkan Metode Harga Penjualan Kembali (Resale Price Method/
RPM) antara lain adalah:
a. tingkat kesebandingan yang tinggi antara transaksi antara Wajib Pajak yang mempunyai
Hubungan Istimewa dengan transaksi antara Wajib Pajak yang tidak mempunyai
Hubungan Istimewa, khususnya tingkat kesebandingan berdasarkan hasil analisis fungsi,
meskipun barang atau jasa yang diperjualbelikan berbeda; dan
b. pihak penjual kembali (reseller) tidak memberikan nilai tambah yang signifikan atas
barang atau jasa yang diperjualbelikan.

3. Metode Biaya-Plus (Cost Plus Method);
Kondisi yang tepat dalam menerapkan Metode Biaya-Plus (Cost Plus Method) antara lain adalah:
a. barang setengah jadi dijual kepada pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa;
b. terdapat kontrak/perjanjian penggunaan fasilitas bersama (joint facility agreement) atau
kontrak jual-beli jangka panjang (long term buy and supply agreement) antara pihakpihak
yang mempunyai Hubungan Istimewa; atau
c. bentuk transaksi adalah penyediaan jasa.

4. Metode Pembagian Laba (Profit Split Method/PSM); atau
Metode Pembagian Laba (Profit Split Method/PSM) secara khusus hanya dapat diterapkan dalam
kondisi sebagai berikut:
a. transaksi antara pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa sangat terkait satu
sama lain sehingga tidak dimungkinkan untuk dilakukan kajian secara terpisah; atau
b. terdapat barang tidak berwujud yang unik antara pihak-pihak yang bertransaksi yang
menyebabkan kesulitan dalam menemukan data pembanding yang tepat.

5. Metode Laba Bersih Transaksional (Transactional Net Margin Method/TNMM) :
Kondisi yang tepat dalam menerapkan Metode Laba Bersih Transaksional (Transactional Net
Margin Method/TNMM) antara lain adalah:
a. salah satu pihak dalam transaksi Hubungan Istimewa melakukan kontribusi yang khusus;
atau
b. salah satu pihak dalam transaksi Hubungan Istimewa melakukan transaksi yang kompleks
dan memiliki transaksi yang berhubungan satu sama lain.


Kesimpulan Penelitian
Dalam menerapkan metode Penentuan Harga Transfer (transfer pricing) yang paling
sesuai wajib diperhatikan hal-hal sebagai berikut: kelebihan dan kekurangan setiap metode; kesesuaian metode Penentuan Harga Transfer dengan sifat dasar transaksi antar pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa, yang ditentukan berdasarkan analisis fungsional; ketersediaan informasi yang handal (sehubungan dengan transaksi antar pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa) untuk menerapkan metode yang dipilih dan/atau metode lain; tingkat kesebandingan antara transaksi antar pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa dengan transaksi antar pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa, termasuk kehandalan penyesuaian yang dilakukan untuk menghilangkan pengaruh yang material dari perbedaan yang
ada.

Wajib Pajak wajib mendokumentasikan langkah-langkah, kajian, dan hasil kajian dalam melakukan Analisis Kesebandingan dan penentuan pembanding, penggunaan Data Pembanding Internal dan/atau Data Pembanding Eksternal serta menyimpan buku, dasar catatan, atau dokumen sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Wajib Pajak wajib juga mendokumentasikan kajian yang dilakukan dan menyimpan buku, dasar catatan, atau dokumen sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
Pendapat Mengenai Jurnal
Jurnal ini membuktikan analisis nya dengan berbagai metode yang digunakan untuk memperkuat hasil penelitian.
Dan jurnal ini memberikan informasi mengenai perpajakan yang sebagaimana mestinya kita sebagai warga negara yang baik taat membayar pajak.

Review Jurnal 11 (Manajemen Resiko Keuangan)


11.
Nama Jurnal
Jurnal Manajemen Resiko Keuangan
Volume / Halaman
SNA VIII Solo
Nama Penulis
WIWIK UTAMI
Judul Jurnal
PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP BIAYA MODAL EKUITAS (STUDI PADA PERUSAHAAN PUBLIK SEKTOR MANUFAKTUR)
Tanggal Jurnal
16 September 2005
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui apakah investor sudah merespon dengan tepat informasi akrual yang disajikan dalam laporan keuangan emiten.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kausal. Data dikumpulkan dan dianalisis menggunakan pool data untuk periode 2001 dan 2002. Untuk menganalisis pengaruh manajamen laba terhadap biaya modal ekuitas dilakukan pengamatan untuk tiga hari perdagangan di BEJ (window tiga hari) yaitu: satu hari sebelum pengumuman laporan keuangan (t-1), pada hari pengumuman laporan keuangan (to), dan satu hari setelah pengumuman laporan keuangan (t + 1).
Pertimbangan untuk menggunakan window tiga hari adalah: (a) adanya perbedaan waktu antara laporan keuangan dilaporkan atau diserahkan ke Bapepam dan BEJ dengan publikasi laporan keuangan di media masa, biasanya beda satu hari, (b) dengan window yang pendek maka dapat meminimalkan confounding affect, dan (c) menurut Scott (2003) jika tujuan penelitian adalah untuk melihat pengaruh maka sebaiknya memakai window yang pendek.
Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah
1) Manajemen laba
Manajemen laba diproksi berdasarkan rasio akrual modal kerja dengan penjualan.
Manajemen laba (ML) = Akrual Modal kerja (t) / Penjualan periode (t)
Akrual modal kerja = D AL - D HL - D Kas
Keterangan:
D AL = Perubahan aktiva lancar pada periode t
D HL = Perubahan hutang lancar pada periode t
D Kas = Perubahan kas dan ekuivalen kas pada periode t

2. Biaya modal ekuitas
Biaya modal ekuitas dihitung berdasarkan tingkat diskonto yang dipakai
investor untuk menilaitunaikan future cash flow (Olhson: 1995, Botosan: 1997, Botosan
dan Plumlee:2002).


3) Variabel kontrol
Beberapa studi sebelumnya menunjukkan bahwa risiko beta dan ukuran
perusahaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap biaya modal ekuitas (Botosan
1997). Dengan demikian, variabel risiko sistematis saham (risiko beta) dan ukuran
perusahaan digunakan sebagai variabel kontrol.
Risiko beta diukur berdasarkan beta harian yang dihitung dengan metode Fowler
dan Rorke (1983) dengan lead dan lag tiga hari. Data beta harian yang telah disesuaikan
dengan metode Fowler dan Rorke (1983) yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh
dari pusat pengembangan akuntansi Universitas Gadjah Mada. Ukuran perusahaan
digunakan proksi nilai kapitalisasi pasar, yaitu jumlah lembar saham yang beredar pada
bulan pengumuman laporan keuangan (bulan Mei untuk tahun 2001 dan April untuk
tahun 2002) dikalikan dengan harga saham penutupan pada bulan yang bersangkutan.

4) Metode analisis
Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda,
Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian ini adalah :
Hasil regresi menunjukkan bahwa nilai koefisien determinan (R square) adalah 21,4%, artinya bahwa manajemen laba, beta saham dan kapitalisasi pasar mampu menjelaskan 21,4 variasi biaya modal ekuitas, sisanya dijelaskan oleh faktor lain. Hasil uji ANOVA menunjukkan nilai F test signifikan pada level 0%, artinya model regresi cocok untuk digunakan sebagai model prediksi. Di samping itu nilai F yang signifikan juga berarti bahwa secara simultan manajemen laba, beta saham dan kapitalisasi pasar berpengaruh terhadap biaya modal ekuitas.

Berdasarkan nilai koefisien regresi dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen, yaitu manajamen laba, beta saham dan kapitalisasi pasar berpengaruh terhadap biaya modal ekuitas dengan tingkat signifikan 1%. Koefisien regresi manajemen laba mempunyai nilai positip, dengan demikian hipotesis yang menyatakan manajemen laba berpengaruh positip terhadap biaya modal ekuitas diterima.

Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa investor sudah mengantisipasi dengan benar informasi yang terkait dengan manajemen laba. Semakin tinggi rasio akrual modal kerja terhadap penjualan (proksi manajemen laba), maka semakin tinggi biayamodal ekuitas. Biaya modal ekuitas yang tinggi selanjutnya akan berdampak pada harga saham yang rendah, karena biaya modal ekuitas adalah tarip diskonto yang dipakai oleh investor untuk menilaitunaikan arus kas dimasa datang.
Kesimpulan Penelitian
Kesimpulan dari penelitian ini adalah :
a) Memberikan bukti empirik bahwa manajemen laba berpengaruh positif dan signifikan terhadap biaya modal ekuitas. Artinya bahwa semakin tinggi tingkat akrual, maka semakin tinggi biaya modal ekuitas. Hal ini menunjukan bahwa tingkat manajemen laba di Indonesia yang relatif tinggi seperti yang diungkap Leuz et al. (2003) telah diantisipasi dengan cermat oleh investor di Bursa Efek Jakarta.

b) Manajemen laba yang diproksi dengan rasio akrual modal kerja dengan penjualan (model Utami) terbukti memberikan kontribusi yang paling besar dalam menjelaskan variasi biaya modal ekuitas. Temuan ini sejalan dengan pendapat McNichols (2000) serta Dechow dan Skinner (2000) yang menyatakan bahwa manajemen laba lebih baik diproksi dengan spesifik akrual dan menggunakan model yang sederhana (tidak rumit).
Pendapat Mengenai Jurnal
Pendapat mengenai jurnal ini adalah penelitian ini sangat bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan seperti investor dan manajer. Namun perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggabungkan perusahaan yangbernilai buku ekuitas negatip dan positip, dan juga untuk sektor non manufaktur.

Review Jurnal 10 (Perencanaan dan Pengendalian Manajerial)


10.
Nama Jurnal
Akuntansi Manajerial
Volume / Halaman
Vol.2 No.2 / Hal. 1296-1305
Nama Penulis
Nurul Fitah Anwar
Herman Karamoy
Judul Jurnal
ANALISIS PENERAPAN METODE PENCATATAN DAN PENILAIAN TERHADAP PERSEDIAAN BARANG MENURUT PSAK NO 14 PADA PT. TIRTA INVESTAMA DC MANADO
Tanggal Jurnal
Juni 2014
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya kesesuaian penerapan metode pencatatan dan penilaian persediaan barang di PT.Tirta Investama dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.14 tentang Persediaan.  
Metode Penelitian
Jenis Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dimana dalam penelitian yang dilakukan bersifat Deskriptif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti sehingga memudahkan penulis untuk mendapatkan data yang objektif dalam rangka mengetahui dan memahami Metode Pencatatan dan Penilaian Persediaan Barang yang diterapkan oleh PT. Tirta Investama DC Manado.
Variabel Penelitian
Metode Pencatatan Persediaan
a. Metode perpetual

b. Metode periodik

Metode Penilaian Persediaan
a. Identifikasi Khusus

b. Metode Biaya Rata-rata (Average)

c. Metode Masuk Pertama, Keluar Pertama (FIFO)

d. Metode Masuk Terakhir, Keluar Pertama (LIFO)
Hasil Penelitian
Adapun hasil penelitian nya adalah :
1. Metode pencatatan yang diterapkan pada PT.Tirta Investama DC (Distribution Centre) Manado dalam mencatat persediaan barang adalah Metode Perpetual. Sedangkan untuk metode penilaian persediaan menggunakan Metode FEFO (First Expired, First Out) yang didasarkan dari asumsi metode FIFO (First In, First Out). Metode FEFO mempunyai pengertian yaitu barang yang akan lebih dahulu kadaluarsa, barang itulah yang akan lebih dahulu untuk dijual.

2. Pengukuran persediaan pada PT.Tirta Investama DC Manado yang merupakan perusahaan dagang khusus distribusi produk hanya membebankan biaya pembelian tanpa adanya biaya penyimpanan, yang sebenarnya diperlukan untuk menjaga kualitas produk yang disimpan di pabrik.

Kesimpulan Penelitian
Adapun kesimpulan penelitian ini adalah

Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode pencatatan dan penilaian persediaan barang yang diterapkan oleh PT.Tirta Investama sebagian besar telah sesuai dengan PSAK No.14 tentang persediaan. Pengukuran persediaan sebaiknya berpedoman dan mengikuti ketentuan yang telah ditetapan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang tertuang dalam PSAK No.14 sehingga semua biaya yang seharusnya diperhitungkan dalam pengukuran persediaan dapat terakumulasi dengan baik.

Pendapat Mengenai Jurnal
Menurut saya, jurnal yang diteliti sudah bagus dalam penyusunan, dan jurnal ini cukup menarik dengan memaparkan pembahasan yang lengkap sehingga memberikan informasi yang sangat bermanfaat terkait dengan pencatatan dan penilaian persediaan barang.

Review Jurnal 9 (Analisis Laporan Keuangan Internasional)



9.
Nama Jurnal
Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia
Volume / Halaman
Volume 7 No.2
Nama Penulis
Luciana Spica Almilia dan Kristjadi
Judul Jurnal
Analisis Rasio Keuangan Untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta
Tanggal Jurnal
Desember 2003
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini untuk menguji rasio keuangan yang mempengaruhi kondisi financial distress perusahaan.
Metode Penelitian
Data Penelitian
Penelitian ini mengambil data sekunder berupa laporan keuangan periode 1998-2001 yang dipublikasikan. Data laporan keuangan diperoleh dari Publikasi BEJ. Periodisasi data penelitian yang mencakup data periode tahun 1998 sampai 2001 dipandang cukup mewakili untuk memprediksi financial distress.

Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian adalah seluruh perusahaan yang laporan keuangannya terdapat di Publikasi BEJ pada tahun 1998-2001. Sedangkan sampel dari penelitian ini perusahaan yang mengalami financial distress dengan indikasi: selama 2 tahun mengalami laba bersih operasi (net operating income) negatif dan selama lebih dari satu tahun tidak melakukan pembayaran deviden yaitu pada tahun 2000 dan 2001. Sebagai kontrol juga dipilih perusahaan yang sehat pada tahun 2000-2001. Data laporan keuangan tahun 2000-2001 digunakan sebagai pedoman penentuan apakah suatu perusahaan mengalami financial distress atau tidak. Sedangkan data laporan keuangan tahun 1998-1999 adalah merupakan data yang akan diolah. Berdasarkan kriteria diatas diperoleh sampel sebanyak 61 perusahaan manufaktur, 24 perusahaan dikatakan mengalami financial distress dan 37 perusahaan tidak mengalami financial distress.

Identifikasi Variabel
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kondisi financial distress perusahaan yang merupakan variable kategori, 0 untuk perusahaan sehat dan 1 untuk perusahaan yang mengalami financial distress. Perusahaan dikatakan mengalami
financial distress jika:
 Beberapa tahun mengalami laba bersih (net income) negatif (dalam penelitian Hofer 1980 dan Whitaker 1999, menggunakan laba bersih operasi atau net operating income).
 Selama lebih dari satu tahun tidak melakukan pembayaran deviden (sesuai dengan penelitian Lau 1987). Sedangkan variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio keuangan perusahaan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Platt dan Platt (2002):
1. Profit margin meliputi:
a. Laba bersih dibagi penjualan (NI/S).


2. Likuiditas meliputi:
a. Aktiva lancar dibagi kewajiban lancar (CA/CL).
b. Modal kerja (aktiva lancar-kewajiban lancar) dibagi total aktiva (WC/TA).
c. Aktiva lancar dibagi total aktiva (CA/TA).
d. Aktiva tetap bersih dibagi total aktiva (NFA/TA).

3. Efisiensi operasi meliputi:
a. Penjualan dibagi total aktiva (S/TA).
b. Penjualan dibagi aktiva lancar (S/CA).
c. Penjualan dibagi modal kerja (S/WC).

4. Profitabilitas meliputi:
a. Laba bersih dibagi total aktiva (NI/TA).
b. Laba bersih dibagi ekuitas saham (NI/EQ)

5. Financial leverage meliputi:
a. Total hutang dibagi total aktiva (TL/TA).
b. Hutang lancar dibagi total aktiva (CL/TA).
c. Notes payable dibagi total aktiva (NP/TA).
d. Notes payable dibagi total hutang (NP/TL).
e. Ekuitas saham dibagi total aktiva (EQ/TA).

6. Posisi kas meliputi:
a. Kas dibagi hutang lancar (CASH/CL).
b. Kas dibagi total aktiva (CASG/TA).
7. Pertumbuhan meliputi:
a. Prosentase pertumbuhan penjualan (GROWTH-S).
b. Prosentase pertumbuhan laba bersih dibagi total   aktiva (GROWTH NI/TA).


Model Analisis dan Tehnik Analisis Data
Pengujian dalam penelitian dengan menggunakan regresi logit untuk mengetahui kekuatan prediksi rasio keuangan terhadap penentuan financial distress suatu perusahaan. Model yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

Pi = 1/[1 + exp - (B0 + B1Xi1 + B2Xi2 + … + BnXin)]
Pi = probabilitas perusahaan mengalami financial distress
Xin = variabel-variabel rasio keuangan

Dalam penelitian ini tidak seluruh rasio-rasio keuangan dimasukkan dalam model, tetapi variabel rasio-rasio keuangan dipilih berdasarkan tingkat signifikansinya. Jadi dalam penelitian ini berusaha mencari rasio-rasio keuangan mana yang paling dominan dalam menentukan apakah suatu perusahaan akan mengalami financial distress atau tidak. Analisis data dilakukan dengan menilai keseluruhan model (overall model fit), menganalisis nilai Nagel Karke dan menguji koefisien regresi.
Variabel Penelitian
Variabel dependen
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kondisi financial distress perusahaan yang merupakan variable kategori, 0 untuk perusahaan sehat dan 1 untuk perusahaan yang mengalami financial distress. Perusahaan dikatakan mengalami
financial distress jika:
 Beberapa tahun mengalami laba bersih (net income) negatif (dalam penelitian Hofer 1980 dan Whitaker 1999, menggunakan laba bersih operasi atau net operating income).
 Selama lebih dari satu tahun tidak melakukan pembayaran deviden (sesuai dengan penelitian Lau 1987).

Variabel independen
Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio keuangan perusahaan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Platt dan Platt (2002):
1. Profit margin meliputi:
a. Laba bersih dibagi penjualan (NI/S).

2. Likuiditas meliputi:
a. Aktiva lancar dibagi kewajiban lancar (CA/CL).
b. Modal kerja (aktiva lancar-kewajiban lancar) dibagi total aktiva (WC/TA).
c. Aktiva lancar dibagi total aktiva (CA/TA).
d. Aktiva tetap bersih dibagi total aktiva (NFA/TA).

3. Efisiensi operasi meliputi:
a. Penjualan dibagi total aktiva (S/TA).
b. Penjualan dibagi aktiva lancar (S/CA).
c. Penjualan dibagi modal kerja (S/WC).

4. Profitabilitas meliputi:
a. Laba bersih dibagi total aktiva (NI/TA).
b. Laba bersih dibagi ekuitas saham (NI/EQ)

5. Financial leverage meliputi:
a. Total hutang dibagi total aktiva (TL/TA).
b. Hutang lancar dibagi total aktiva (CL/TA).
c. Notes payable dibagi total aktiva (NP/TA).
d. Notes payable dibagi total hutang (NP/TL).
e. Ekuitas saham dibagi total aktiva (EQ/TA).

6. Posisi kas meliputi:
a. Kas dibagi hutang lancar (CASH/CL).
b. Kas dibagi total aktiva (CASG/TA).
7. Pertumbuhan meliputi:
a. Prosentase pertumbuhan penjualan (GROWTH-S).
b. Prosentase pertumbuhan laba bersih dibagi total   aktiva (GROWTH NI/TA).
Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini menunjukkan Rasio profit margin (laba bersih / penjualan bersih), rasio leverage keuangan (kewajiban lancar / total aktiva), rasio likuiditas (aktiva lancar / kewajiban lancar) dan pertumbuhan (laba bersih / pertumbuhan total aset) adalah variabel yang signifikan untuk menentukan perusahaan kesulitan keuangan.
Kesimpulan Penelitian
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa rasio-rasio keuangan dapat digunakan untuk memprediksikan financial distress suatu perusahaan. Sehingga hipotesis dalam penelitian ini dapat diterima, bahwa rasio-rasio keuangan dapat digunakan untuk memprediksikan financial distress suatu perusahaan. Sedangkan tambahan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variable rasio keuangan yang paling dominan dalam menentukan financial distress suatu perusahaan adalah:
1. Rasio profit margin yaitu laba bersih dibagi dengan  penjualan (NI/S).
2. Rasio financial leverage yaitu hutang lancar dibagi dengan total aktiva (CL/TA).
3. Rasio likuiditas yaitu aktiva lancar dibagi dengan hutang lancar (CA/CL).
4. Rasio pertumbuhan yaitu rasio pertumbuhan laba bersih dibagi dengan total aktiva (GROWTH NI/TA).
Pendapat Mengenai Jurnal
Menurut saya jurnal ini sudah cukup baik dan mudah  untuk dimengerti mengenai financial distress.  Hanya saja dalam jurnal ini terdapat beberapa kekurangan yaitu periodisasi data yang digunakan  hanya 2 tahun untuk memprediksi. Kemampuan prediksi akan lebih baik apabila digunakan data series yang cukup panjang. Selain itu, terdapat beberapa  factor diluar rasio keuangan seperti kondisi ekonomi (pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, inflasi dan lain-lain) serta parameter politik yang tidak dapat digunakan dalam penelitian ini karena kesulitan pengukurannya. Dan apabila faktor-faktor tersebut dapat diperoleh dan dapat diukur dengan tepat, maka akan diperoleh tingkat prediksi financial distress suatu perusahaan yang lebih akurat.